Peran Puasa dalam Mengendalikan Diri
Peran Puasa dalam Mengendalikan Diri
Ketika mendengar kata “Puasa” banyak hal yang terlintas di dalam benak kita, apa sih sebenarnya puasa itu?
Pengertian Puasa
Secara umum, puasa merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan seorang individu secara sukarela dengan menahan diri dari makanan, minuman, perilaku buruk, dan semua hal yang berpotensi membatalkan puasa tersebut.
Menurut pandanagn dari prespektif agama islam, puasa disebut dengan Shaum yang berasal dari Bahasa Arab. Puasa merupakan ibadah yang bersifat wajib untuk dilaksanakan oleh seluruh umat Islam yang ada di selurih dunia ketika bulan Ramadhan telah tiba. Ibadah ini ini dilaksanakn selama satu bulan penuh dan berakhir saat memasuki bulan Syawal.
Pelaksanaan puasa dalam syariat islam adalah dengan menahan diri dari makan, minum, serta semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa mulai dari matahari terbit hingga matahari tenggelam dengan diawali niat yangtelah di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Manfaat Pengendalian Diri
Bukti ilmiah tentang manfaat mengendalikan diri ditulis oleh Daniel Goleman, seorang ahli kepribadian dan peneliti tentang kecerdasar emosi. Salah satu penelitiannya mengadakan penelitian pada anak-anak berusia empat tahun di taman kanak-kanak. Pertama sekali anak-anak di suruh masuk kesebuah ruangan satu persatu, dimana sepotong manisan di letakkan diatas meja di depan mereka, sambil diperintahkan “kalian boleh makan manisan ini jika mau, saya mau keluar sebentar, tetapi kalau ada yang tahan memakannya nanti setelah saya kembali ke sini, dia akan berhak mendapatkan sepotong lagi”.maka hasilnya ada yang memakan dan ada yang tidak.
Setelah empat belas tahun kemudian, dimana anak-anak itu telah lulus sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) anak-anak yang dahulu langsung memakan manisan dan anak-anak yang mampu mengendalikan diri sehingga mendapat dua potong menunjukkan perkembangan sebagai berikut. mereka yang langsung memakan manisan cendrung tidak tahan menghadapi stres, mudah tersinggung, mudah berkelahi, dan kurang tahan uji dalam mengejar cita-cita mereka
Peneliti juga menemukan hasil yang mengejutkan dimana anak-anak yang mampu menahan diri dalam uji manisan, memperoleh nilai yang lebih tinggi dalam ujian masuk ke perguruan tinggi dan juga ketika anak-anak TK itu tumbuh menjadi dewasa dan bekerja, perbedaan-perbedaan diantara mereka semangkin mencolok, dipenghujung usia duapuluhan, mereka yang lulus uji manisan tergolong orang-orang yang sangat cerdas, berminat tinggi dan lebih mampu berkonsentrasi, mereka lebih mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab degan orang lain, lebih handal dan bertanggung jawab serta pengendalian dirinya lebih baik saat menghadapi prustasi.
Dari hasil penelitian di atas dapat dipahami bahwa orang yang dapat mengendalikan diri diperkirakan akan mampu menghadapi tantangan, godaan dan rintangan hidup, mereka juga diperkirakan akan memiliki tingkat konsentrasi lebih tinggi dalam bekerja, dan mereka juga mampu mengembangkan hubungan yang akrab dan tulus dengan orang lain, mereka mempunyai hubungan sosial yang lebih baik, mereka juga lebih handal dan bertanggung jawab dan pengendalian dirinya lebih baik saat dia menghadapi masalah sehingga tidak menimbulkan prustasi.
Hubungan Puasa dengan Kesehatan Jiwa
Doktor Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow mencoba menyembuhkan gangguan jiwa dengan berpuasa. Dalam usahanya itu ia melakukan terapi terhadap pasiennya dengan menggunakan 30 hari puasa (persis puasanya orang Islam).
Nicolayef mengadakan penelitian ekperiment dengan membagi subyek menjadi dua kelompok yang sama besar, baik usia maupun berat ringannya gangguan. Kelompok pertama diberi terapi atau pengobatan dengan menggunakan obat-obatan medis. Sementara kelompok ke II diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dua kelompok tadi diikuti perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologi.
Dari ekperimen ini diperoleh hasil yang sangat baik, yaitu banyak pasien-pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik ternyata bisa sembuh dengan berpuasa. Sementara itu Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar psikitari UI Jakarta dalam penelitiannya juga menemukan bahwa gangguan-gangguan jiwa non psikosis (seperti fobia, obsesif kompulasi, panic disorder) dapat disembuhkan dengan terapi puasa, baik puasa ramadhan maupun puasa sunat.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang hubungan puasa dan kepekaan sosial, menemukan temuan bahwa puasa secara signifikan berhubungan positif dengan sensitifitas sosial. Artinya kegiatan puasa dapat meningkatkan kepekaan sosial sehingga dengan kepekaan itu individu manjadi mudah memberi pertolongan dan suka mengembangkan perilaku-perilaku yang bersifat prososial.
Kesimpulannya
Berpuasa memiliki banyak sekali manfaat yang dapat di raih oleh setiap individu yang melaksanakannya. Tidak hanya dari segi kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental dan jiwa seseorang. Dengan berpuasa kita lebih cenderung akan menahan diri dari perbuatan yang membatalkan puasa dan juga perbuatan yang tidak bermoral seperti mencela orang lain.
Komentar
Posting Komentar